Senin, 24 Agustus 2020

Menantang Maut dan Menentang Maut

Seorang nenek, tetanggaku, berjalan melintas di depan rumah. Aku menyapanya, mengingatkan agar ia memakai masker demi kesehatannya. Bulan depan, nenek ini akan berulang tahun ke-92. Suatu berkat kehidupan yang patut disyukuri.

Tetapi sang nenek dengan mata berkaca-kaca mengatakan, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya. Berulang kali ia memohon kepada Tuhan agar mencabut nyawanya. Alasannya, anak yang paling disayanginya telah dipanggil Tuhan beberapa tahun silam. 

Tindakan nenek yang berjalan tanpa masker bisa dikatakan menunjukkan sikapnya menantang maut, sementara sebagian besar umat manusia berjuang menentang maut yang mengintai di masa pandemi Covid-19 ini.

Kehidupan adalah anugerah Tuhan yang penuh misteri. Mengapa tidak kita hidupi tanpa menantang atau menentang maut? Jika sampai hari ini Tuhan masih memberi kita napas kehidupan, berarti Ia masih memberi kita kesempatan menikmati anugerah-Nya di dunia ini. Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya; tanpa penyesalan, tanpa ketakutan.

Jumat, 14 Agustus 2020

Militia Imakulata

Hari ini Gereja Katolik memperingati kemartiran Santo Maximilian Maria Kolbe (1894-1941), seorang Imam Fransiskan asal Polandia, yang merelakan dirinya menggantikan seorang tawanan lain di kamp konsentrasi Auschwitz pada masa penguasaan Nazi. 

Salah satu warisan St. Max Kolbe ialah komunitas Militia Imakulata. Awalnya, ketika sedang berada di Roma, St. Max Kolbe melihat parade orang-orang Freemason yang memperingati 200 tahun keberadaan mereka dengan membawa spanduk bertuliskan: "Setan akan menguasai Vatikan dan Paus akan menjadi hambanya."

St. Max Kolbe lalu bertekad mempertahankan Gereja. Pada 16 Oktober 1917 - 3 hari setelah penampakan terakhir Bunda Maria di Fatima kepada 3 anak gembala - St. Max Kolbe mendirikan komunitas Militia Imakulata yang kemudian dikenal dengan nama Bentara Maria Imakulata. Tujuan Militia Imakulata ialah mempertobatkan para pendosa dan penganut bidaah, terutama pengikut Freemason; serta pengudusan semua orang melalui teladan dan perantaraan Bunda Maria.

Pilihan St. Max Kolbe kepada Maria Imakulata berdasarkan keyakinan bahwa Bunda Maria akan menang melawan setan dan menghancurkan kepala setan. Selain itu, Bunda Maria adalah perantara segala rahmat.

Menurut St. Max Kolbe ada 3 "medan pertempuran" bagi anggota Militia Imakulata, yaitu  (1) memenangkan jiwa kita sendiri bagi Maria Imakulata, (2) memenangkan jiwa keluarga dan teman-teman kita bagi Maria Imakulata, (3) memenangkan jiwa seluruh umat manusia bagi Maria Imakulata.

St. Maximilian Maria Kolbe dikenal sebagai rasul pengabdian kepada Bunda Maria dan martir cinta kasih. Pada 10 Oktober 1982 ia dikanonisasi oleh Paus St. Yohanes Paulus II.

Jumat, 07 Agustus 2020

Jika Virus Itu Seperti Dosa...

Di masa pandemi Covid-19 ini, kita diminta menerapkan protokol kesehatan untuk menghindari terpapar virus Corona dengan cara:
- Memakai masker
- Sering mencuci tangan
- Menjaga jarak sosial

Mengibaratkan virus Corona seperti dosa, kita pun perlu menerapkan protokol keselamatan jiwa dengan cara:
- Menutup mulut terhadap pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak perlu
    Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. (Mazmur 17:3)

- Menjaga tangan (perbuatan) kita tetap bersih
    Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya... (Mazmur 27:3-4a)

- Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang dapat membuat jalan kita menyimpang
    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (Mazmur 1:1-2)

Senin, 03 Agustus 2020

Cara Tuhan Menegur

Nabi Hananya bin Azur bernubuat untuk menyenangkan hati bangsa Israel. Katanya di depan para imam dan seluruh rakyat: "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel..." (Yeremia 28:2-3).
 
Tuhan tidak serta-merta menegur Hananya yang bernubuat palsu itu di depan umum. Tuhan membiarkan Hananya berseloroh di depan orang banyak. Nabi Yeremia yang mendengarkan ucapan Hananya hanya berujar, "Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini..." (Yeremia 28:6).

Setelah itu, secara pribadi Tuhan mengutus Yeremia menemui Hananya dan mengatakan yang sebenarnya. Karena kekerasan hati bangsa Israel terhadap Tuhan, maka Tuhan akan membuat mereka takhluk kepada Nebukadnezar, raja Babel. Nabi Hananya yang telah meninabobokan bangsa Israel dengan mengatakan Nebukadnezar akan kalah, sehingga bangsa Israel percaya kepada nubuat yang salah - mendapat ganjaran setimpal. Pada tahun itu juga, Hananya mati (Yeremia 28:17).

Dari kisah nabi Hananya dan nabi Yeremia di atas, kita dapat melihat cara Tuhan menegur manusia. Meski Hananya bernubuat tidak benar di depan orang banyak, perbuatannya mendukakan Tuhan; tetapi Tuhan tetap punya etika dalam menegur ciptaan-Nya. Bagaimana dengan kita ketika menegur orang yang bersalah? Apakah kita menegurnya di depan orang banyak, sehingga mempermalukannya? Ataukah kita menegurnya secara pribadi seperti yang Tuhan lakukan?

Senin, 20 Juli 2020

Bersama Ibu-Nya

Kedekatan Yesus dengan Ibu-Nya tampak dari dua peristiwa besar yang dialami Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia. Mengawali penampilan-Nya di depan umum dalam perjamuan kawin di Kana, Yesus melakukan mukjizat pertama saat bersama Ibu-Nya. Di atas kayu salib, penampilan terakhir Yesus di depan umum sebelum wafat, Ia pun berada bersama Ibu-Nya.

Melalui kedua peristiwa besar itu, terlihat jelas peran besar Bunda Maria dalam kehidupan Yesus, Putranya. Apakah kita sebagai putra dan putri Bunda Maria juga menyertakan Ibu Surgawi kita dalam hidup kita? Adakah kita menyadari campur tangan Bunda Maria di saat-saat penting kehidupan kita?

Kamis, 16 Juli 2020

Tanda Penyertaan

Manusia butuh tanda penyertaan yang kasat mata dari Tuhan yang tak kelihatan. Dalam pengembaraan bangsa Israel di padang gurun menuju tanah terjanji Kanaan, Allah menyertai mereka dengan tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam (lihat Bilangan 14:14).

Setelah Tuhan Yesus naik ke Surga, sesuai amanat perpisahan-Nya dalam Perjamuan Terakhir, umat beriman kristiani mengalami tanda penyertaan-Nya secara konkret melalui Sakramen Mahakudus dalam Perayaan Ekaristi.

Bunda Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja, yang telah diangkat ke Surga juga memberikan tanda penyertaannya lewat Rosario dan Skapulir Cokelat Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

Dengan tanda kehadiran Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang nyata sampai saat ini, adakah hal lain yang melebihi kedua tanda penyertaan itu untuk kehidupan kita sehari-hari?

Komuni Suci secara fisik belum dapat kita terima beberapa bulan belakangan ini lantaran pandemi Covid-19. Tetapi kita bisa menyelami kehadiran Yesus dalam Komuni Batin dan Adorasi Sakramen Mahakudus, merasakan penyertaan-Nya secara spiritual dalam setiap langkah hidup kita.

Bagaimana dengan untaian Rosario? Dalam beberapa penampakan Bunda Maria, terutama di Fatima tahun 1917, Bunda Maria berpesan melalui tiga anak gembala - Lusia, Fransiskus, dan Yasinta - agar kita berdoa Rosario setiap hari. Sudahkah kita melakukannya? Melalui doa Rosario, bersama Bunda Maria kita menghayati perjalanan hidup Putra tercintanya, Tuhan Yesus.
 
Lalu, bagaimana pemakaian Skapulir Cokelat? Skapulir adalah tanda dan lambang perlindungan Bunda Maria bagi kita anak-anaknya, sama seperti ibu kita di dunia yang mengenakan pakaian pada kita. ".... Siapa pun yang meninggal dalam busana ini, tidak akan mengalami api yang kekal. Ini adalah tanda keselamatan, perlindungan dari segala bahaya, sebuah sarana perdamaian dan perjanjian," pesan Santa Perawan Maria kepada Santo Simon Stock saat memberikan Skapulir Cokelat pada 16 Juli 1251.

Sakramen Mahakudus, Rosario dan Skapulir Cokelat - tanda penyertaan nyata dari Tuhan Yesus dan Bunda Maria - yang dapat kita jadikan "teman seperjalanan" dalam peziarahan kita di dunia, sampai tiba dengan selamat di Kerajaan Surga kelak.

Rabu, 01 Juli 2020

Goresan Warna-Mu

Terima kasih, Tuhan
atas goresan warna-warni 
yang Engkau berikan di atas kanvas kehidupanku. 
Indahlah apa yang telah Engkau buat, ya Tuhan
jiwaku mengaguminya.