Jumat, 07 Agustus 2020

Jika Virus Itu Seperti Dosa...

Di masa pandemi Covid-19 ini, kita diminta menerapkan protokol kesehatan untuk menghindari terpapar virus Corona dengan cara:
- Memakai masker
- Sering mencuci tangan
- Menjaga jarak sosial

Mengibaratkan virus Corona seperti dosa, kita pun perlu menerapkan protokol keselamatan jiwa dengan cara:
- Menutup mulut terhadap pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak perlu
    Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur. (Mazmur 17:3)

- Menjaga tangan (perbuatan) kita tetap bersih
    Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya... (Mazmur 27:3-4a)

- Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang dapat membuat jalan kita menyimpang
    Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (Mazmur 1:1-2)

Senin, 03 Agustus 2020

Cara Tuhan Menegur

Nabi Hananya bin Azur bernubuat untuk menyenangkan hati bangsa Israel. Katanya di depan para imam dan seluruh rakyat: "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel..." (Yeremia 28:2-3).
 
Tuhan tidak serta-merta menegur Hananya yang bernubuat palsu itu di depan umum. Tuhan membiarkan Hananya berseloroh di depan orang banyak. Nabi Yeremia yang mendengarkan ucapan Hananya hanya berujar, "Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini..." (Yeremia 28:6).

Setelah itu, secara pribadi Tuhan mengutus Yeremia menemui Hananya dan mengatakan yang sebenarnya. Karena kekerasan hati bangsa Israel terhadap Tuhan, maka Tuhan akan membuat mereka takhluk kepada Nebukadnezar, raja Babel. Nabi Hananya yang telah meninabobokan bangsa Israel dengan mengatakan Nebukadnezar akan kalah, sehingga bangsa Israel percaya kepada nubuat yang salah - mendapat ganjaran setimpal. Pada tahun itu juga, Hananya mati (Yeremia 28:17).

Dari kisah nabi Hananya dan nabi Yeremia di atas, kita dapat melihat cara Tuhan menegur manusia. Meski Hananya bernubuat tidak benar di depan orang banyak, perbuatannya mendukakan Tuhan; tetapi Tuhan tetap punya etika dalam menegur ciptaan-Nya. Bagaimana dengan kita ketika menegur orang yang bersalah? Apakah kita menegurnya di depan orang banyak, sehingga mempermalukannya? Ataukah kita menegurnya secara pribadi seperti yang Tuhan lakukan?

Senin, 20 Juli 2020

Bersama Ibu-Nya

Kedekatan Yesus dengan Ibu-Nya tampak dari dua peristiwa besar yang dialami Yesus dalam kehidupan-Nya di dunia. Mengawali penampilan-Nya di depan umum dalam perjamuan kawin di Kana, Yesus melakukan mukjizat pertama saat bersama Ibu-Nya. Di atas kayu salib, penampilan terakhir Yesus di depan umum sebelum wafat, Ia pun berada bersama Ibu-Nya.

Melalui kedua peristiwa besar itu, terlihat jelas peran besar Bunda Maria dalam kehidupan Yesus, Putranya. Apakah kita sebagai putra dan putri Bunda Maria juga menyertakan Ibu Surgawi kita dalam hidup kita? Adakah kita menyadari campur tangan Bunda Maria di saat-saat penting kehidupan kita?

Kamis, 16 Juli 2020

Tanda Penyertaan

Manusia butuh tanda penyertaan yang kasat mata dari Tuhan yang tak kelihatan. Dalam pengembaraan bangsa Israel di padang gurun menuju tanah terjanji Kanaan, Allah menyertai mereka dengan tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam (lihat Bilangan 14:14).

Setelah Tuhan Yesus naik ke Surga, sesuai amanat perpisahan-Nya dalam Perjamuan Terakhir, umat beriman kristiani mengalami tanda penyertaan-Nya secara konkret melalui Sakramen Mahakudus dalam Perayaan Ekaristi.

Bunda Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja, yang telah diangkat ke Surga juga memberikan tanda penyertaannya lewat Rosario dan Skapulir Cokelat Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.

Dengan tanda kehadiran Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang nyata sampai saat ini, adakah hal lain yang melebihi kedua tanda penyertaan itu untuk kehidupan kita sehari-hari?

Komuni Suci secara fisik belum dapat kita terima beberapa bulan belakangan ini lantaran pandemi Covid-19. Tetapi kita bisa menyelami kehadiran Yesus dalam Komuni Batin dan Adorasi Sakramen Mahakudus, merasakan penyertaan-Nya secara spiritual dalam setiap langkah hidup kita.

Bagaimana dengan untaian Rosario? Dalam beberapa penampakan Bunda Maria, terutama di Fatima tahun 1917, Bunda Maria berpesan melalui tiga anak gembala - Lusia, Fransiskus, dan Yasinta - agar kita berdoa Rosario setiap hari. Sudahkah kita melakukannya? Melalui doa Rosario, bersama Bunda Maria kita menghayati perjalanan hidup Putra tercintanya, Tuhan Yesus.
 
Lalu, bagaimana pemakaian Skapulir Cokelat? Skapulir adalah tanda dan lambang perlindungan Bunda Maria bagi kita anak-anaknya, sama seperti ibu kita di dunia yang mengenakan pakaian pada kita. ".... Siapa pun yang meninggal dalam busana ini, tidak akan mengalami api yang kekal. Ini adalah tanda keselamatan, perlindungan dari segala bahaya, sebuah sarana perdamaian dan perjanjian," pesan Santa Perawan Maria kepada Santo Simon Stock saat memberikan Skapulir Cokelat pada 16 Juli 1251.

Sakramen Mahakudus, Rosario dan Skapulir Cokelat - tanda penyertaan nyata dari Tuhan Yesus dan Bunda Maria - yang dapat kita jadikan "teman seperjalanan" dalam peziarahan kita di dunia, sampai tiba dengan selamat di Kerajaan Surga kelak.

Rabu, 01 Juli 2020

Goresan Warna-Mu

Terima kasih, Tuhan
atas goresan warna-warni 
yang Engkau berikan di atas kanvas kehidupanku. 
Indahlah apa yang telah Engkau buat, ya Tuhan
jiwaku mengaguminya. 
 

Senin, 15 Juni 2020

Berhenti Berpikir Berlebihan

Pikiran berlebihan, mendatangkan petaka.
Lihat saja Kain yang berpikir berlebihan karena iri persembahannya tidak diterima, sedangkan persembahan adiknya berkenan kepada Allah. Muncul macam-macam pikiran buruk, yang berujung pada tindakan menghilangkan nyawa Habel, adiknya.Contoh lain, Raja Daud yang berpikir berlebihan ketika tertarik kepada Batsyeba, sehingga ia merancang segala yang buruk terhadap Uria, suami Batsyeba, agar dapat memperistri perempuan itu.  

Ketika kita sedang mengalami masalah dan berpikir, pergerakan pikiran kita seperti air dalam gelas yang sedang diaduk dengan sendok. Berputar-putar tak tentu arah, menimbulkan kebingungan dan ketidakjelasan. Akibatnya, dalam situasi pikiran keruh seperti itu, si jahat yang selalu mengintai untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa, dapat dengan mudah ikut masuk memberikan ide-ide buruk ke dalam pikiran kita.

Berhenti berpikir berlebihan, membantu menghindari kita jatuh ke dalam dosa akibat pikiran kita. Anda sedang menghadapi masalah? 
Stop berpikir berlebihan. 
Lebih baik datang ke hadirat Tuhan.

Rabu, 03 Juni 2020

Bunda Maria adalah Ibu Bumi

"Seluruh alam dijadikan oleh Allah, dan Allah lahir dari Maria. Allah menciptakan segala sesuatu, dan Maria melahirkan Allah. Allah yang menjadikan segala-galanya, membiarkan diri dibentuk melalui Maria, sehingga Ia membuat diri-Nya diciptakan. Ia yang dapat menciptakan segala sesuatu tanpa bahan baku, tidak mau menjadikan kembali ciptaan-Nya yang hancur tanpa bantuan Maria.

Maka, Allah adalah Bapa bumi yang diciptakan, dan Maria adalah Bunda bumi yang diciptakan kembali. Allah adalah Bapa yang oleh-Nya segala sesuatu diberi kehidupan, dan Maria adalah Bunda yang olehnya segala sesuatu diberi kehidupan baru." - Santo Anselmus, Uskup Agung dari Canterbury (1033-1109)

Sepanjang bulan Mei yang lalu, kita mendaraskan doa Rosario dengan ujud-ujud permohonan sesuai Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si yang menekankan perhatian kepada Ibu Bumi dan pelestarian lingkungan hidup.
 
Merefleksikan dan memahami khotbah Santo Anselmus di atas, Maria adalah Bunda bumi yang diciptakan kembali. Dalam carut-marut dunia saat ini, sudah sepatutnya kita berpaling kepada Bunda Maria, agar sebagai Bunda bumi ia berkenan mencurahkan kehidupan baru atas segala sesuatu di muka bumi ini.