Senin, 24 Juni 2019

Sekarang Aku Mengerti

"Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak," kata-Mu dalam perjamuan terakhir bersama para rasul (lihat Yohanes 13:8b).

Semula memang aku tak mengerti:
- Mengapa Engkau membasuh kaki para rasul?
- Mengapa Engkau mau menanggung sengsara begitu hebat, tanpa sedikit pun melawan?
- Mengapa Engkau tak mau turun dari salib, malah memilih masuk ke alam kematian?
- Mengapa Engkau mengatakan, roti adalah Tubuh-Mu dan air anggur adalah Darah-Mu?

Sekarang aku mengerti:
- Engkau memberi teladan kerendahan hati dan sikap melayani secara total.
- Engkau mau menyelamatkan seluruh umat manusia, serta memulihkan relasi yang terputus antara Allah dan manusia karena dosa manusia pertama.
- Engkau masuk ke alam maut, agar dapat mengalahkannya, sehingga maut tidak lagi berkuasa atas manusia.
- Engkau meninggalkan kenangan abadi berupa Tubuh dan Darah-Mu dalam Sakramen Mahakudus, yang setiap kali kami sambut dalam Perjamuan Ekaristi.   

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sangat mengasihi kami. 

Minggu, 23 Juni 2019

Mukjizat Penggandaan Roti

Yesus memberi makan 5.000 orang laki-laki (lihat Lukas 9:12-17). Ada tafsiran yang mengatakan, peristiwa penggandaan roti hanya simbolis. Intinya, Yesus mencontohkan agar orang-orang yang hadir di tempat itu mau saling berbagi, sehingga semua berkecukupan. 

Mealui pemaparan Yesus dalam Injil Markus 8:18b-21, kita meyakini peristiwa penggandaan roti adalah sungguh mukjizat yang diperbuat Tuhan Yesus, bukan sekadar bermakna simbolis. 

Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul." Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul." Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"   

Sabtu, 15 Juni 2019

Ketika Kita Bertatapan

Tepat tiga tahun silam aku merasakan sapaanmu, ketika kita bertatapan. 
Perjumpaan ini mengubah hidupku selanjutnya....



Tak ada perasaan bersemangat akan bertemu denganmu, ketika aku memutuskan menghadiri acara devosi kepada Bunda Maria Fatima di sebuah aula di kawasan Jakarta Barat pada 15 Juni 2016. Acara yang diselenggarakan Marian Centre Indonesia ini menghadirkan ikon Bunda Maria Peziarah Internasional dari Fatima-Portugal, dirangkai dengan Doa Rosario dan Perayaan Ekaristi.

Ketika ikon Bunda Maria Peziarah Internasional diarak masuk ke aula, seluruh hadirin berdiri. Dalam hati aku berucap, "Apa yang istimewa? Pasti seperti tampilan Bunda Maria umumnya.... tersenyum manis dengan pandangan mata lembut."

Aku menatap ke wajah Bunda Maria, saat tandu yang membawanya lewat di dekatku. "Ke mana saja kamu selama ini, anakku?" suara itu menggema dalam hatiku. Aku terkesiap! Sapaan Bunda menyadarkanku.  Aku menatap wajah Bunda dengan lekat, lalu menunduk.

Sudah 37 tahun aku dibaptis. Sebagai orang Katolik tentu aku mengenalmu, Bunda. Aku telah mengalami berbagai peristiwa pribadi yang menjadi tonggak-tonggak penting dalam perjalanan hidupku, di dalamnya kuakui ada campur tangan dan peran besar Bunda Maria. Tetapi, selama itu pula relasiku dengan Bunda Maria hanya suam-suam kuku. Setelah masalah selesai dan peristiwa berlalu, penyertaan dan pertolongan Bunda Maria tak lagi kuingat. Bahkan dalam beberapa kasus, peringatan dini Bunda Maria tidak kugubris.

Ke mana saja aku selama ini sampai melupakan Bunda Surgawiku yang dalam diam dan caranya sendiri selalu mendampingi langkah hidupku?

Perjumpaan dengan Bunda Maria dan sapaannya mengubah hidupku. Selubung penghalang lenyap.

Dua minggu kemudian setelah peristiwa itu, aku mengawali devosi kepada Bunda Maria di Paroki dengan mengajak umat mendaraskan Doa Senakel, setelah Misa harian pada Sabtu pertama. Lima belas bulan setelahnya, Paroki kami diminta Marian Centre Indonesia menjadi salah satu penyelenggara Misa dan Doa Senakel bersama Father Laurent Larroque, pemimpin Gerakan Imam Maria Internasional, yang berkunjung ke Indonesia. 

Tiga tahun berlalu sejak engkau menatap dan menyapaku. Terima kasih, Bunda Maria, engkau telah membawaku dekat kepadamu. Dari hari ke hari tumbuh semangat besar untuk makin mengenal dan mencintaimu, agar engkau dapat menggunakan diriku demi kepentingan Hatimu yang Tak Bernoda.   

Minggu, 19 Mei 2019

Yerusalem yang Baru

Lalu, di dalam roh, ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. (Wahyu 21:10)

Ayat ini memiliki makna yang sangat mendalam:

* di dalam roh
Perjumpaan dengan Tuhan terjadi dalam persatuan roh - roh manusia dengan Roh Tuhan

* ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi
Jika ingin bertemu dengan Tuhan, naiklah ke gunung yang tinggi - mengangkat jiwa dan roh kita ke atas (pada tingkat roh) dengan cara membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi

* kota yang kudus, Yerusalem turun dari sorga, dari Allah
Dalam persatuan roh, Tuhan mengunjungi umat-Nya seperti Yerusalem yang turun dari sorga

*
Yerusalem yang baru bukanlah wujud fisik sebuah kota, melainkan ketika Tuhan turun dari sorga, menyatu dengan umat-Nya. Di sisi lain, umat-Nya mengangkat jiwa dan roh ke atas, untuk menyatu dengan Tuhan.

Tak perlu menunggu saat kita kembali ke alam kekal. Yerusalem yang baru sudah bisa kita rasakan di dunia ini, ketika kita hadir sepenuh hati dalam Perayaan Ekaristi - pertemuan surga dan bumi.

Kamis, 25 April 2019

Menjadi Laskarmu

Dalam pandangan dan perhitungan manusia, sepertinya mustahil mengerjakan tugas perutusan ini. Tetapi, demi terselenggaranya devosi di Bulan Maria,
aku menerimanya.
Bukankah aku telah mengikrarkan diri secara pribadi untuk menjadi laskarmu?
Aku tak akan menelantarkanmu lagi.
Bersamamu, Bunda Maria, tugas ini pasti dapat diselesaikan dengan baik.


Rabu, 06 Maret 2019

Padang Gurun yang Berbeda

Tahun ini, kita melintasi padang gurun yang berbeda dari biasanya.
Mengapa Engkau membawaku ke sini, ya Yesus?
Engkau tentu punya alasannya.

Tak ada pilihan untuk mundur,
Tak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan,
Engkau sudah melangkah maju,
Aku akan mengikuti-Mu.

Kamis, 14 Februari 2019

Separuh atau Semua?

Beberapa bulan belakangan ini, ajaran Yesus untuk menjadi sempurna makin menggema dalam kalbu.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48) 

Kepada seorang muda yang kaya, Yesus meminta ia menjual seluruh miliknya, lalu mengikuti Yesus untuk menjadi sempurna. "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21) 

Sebagai orang biasa - bukan kaum berjubah, bagaimana bisa menjual seluruh milik agar dapat menjadi sempurna?  

Zakheus mendapat kunjungan Yesus ke rumahnya. Ia lalu merelakan separuh hartanya. "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin...." (Lukas 19:8a)

Tindakan Zakheus dapat menjadi jalan tengah bagi orang awam yang ingin mengikuti Tuhan menuju kesempurnaan. Apakah kita berani melakukannya?